Menu

Mode Gelap

Bisnis · 20 Dec 2025 04:48 WIB ·

Hutan Diklaim Selamat, Luka Rakyat Menganga


 Hutan Diklaim Selamat, Luka Rakyat Menganga Perbesar

Sumatera Utara — Bisnispos.Konflik lahan antara PT Toba Pulp Lestari (TPL) dan masyarakat adat Sihaporas kembali memanas. Bentrokan berdarah yang terjadi pada September 2025 di Kecamatan Pematang Sidamanik menyisakan luka, trauma, dan pertanyaan besar tentang keberpihakan negara.

Peristiwa ini mencuat bersamaan dengan sorotan publik terhadap keputusan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang justru memberikan Penghargaan Prima Wana Karya 2025 kepada PT TPL, meski konflik dan bencana ekologis di Sumatera Utara terus berulang, mulai dari banjir bandang hingga longsor yang menelan korban jiwa.

Penghargaan di Tengah Konflik

Penghargaan tersebut diberikan pada 15 Agustus 2025, sekitar sebulan sebelum bentrokan terjadi. Keputusan ini menuai kritik karena sebelumnya Ephorus HKBP telah meminta Menteri Kehutanan menghentikan operasi PT TPL guna meredam konflik dengan masyarakat adat.

“Sudah diingatkan, tapi malah diberi penghargaan. Ini justru bikin gaduh,”
kata Maret Samuel Sueken, Ketua Umum JPKP.

Pegiat agraria Sumatera Utara, Rudi C. Tanjung, SH, menilai penghargaan itu seperti tameng bagi perusahaan.

“Perusahaan dicitrakan bersih, padahal di lapangan masyarakat masih berjuang dengan luka,” ujarnya.

Sengketa Tanah Adat

Akar konflik berasal dari izin konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang diberikan kepada PT TPL. Masyarakat adat menegaskan tanah tersebut adalah tanah adat yang tidak pernah dilepaskan, sementara perusahaan mengklaim memiliki HGU yang sah.

Sejak 2015, penolakan warga terus berlangsung hingga memuncak pada bentrokan fisik tahun ini. Mediasi telah dilakukan aparat dan pemerintah daerah, namun belum menghasilkan solusi yang adil bagi semua pihak.

Sejumlah aktivis menilai penghargaan kepada PT TPL sebagai sinyal keliru dari pemerintah.

“Negara terlihat lebih menghargai produksi daripada penderitaan rakyat,”
kritik Rudi.

Pengamat kebijakan publik mendorong audit independen atas legalitas konsesi, dampak lingkungan, dan dampak sosial perusahaan, serta dialog berbasis keadilan restoratif dengan masyarakat adat.

Kasus PT TPL menambah daftar kontroversi Raja Juli Antoni. Ia kerap dijuluki publik sebagai “menteri tukang gaduh” karena berbagai polemik, mulai dari dugaan nepotisme proyek FOLU Net Sink 2030, bagi-bagi jabatan kader partai, hingga aktivitas media sosial yang dinilai tidak pantas bagi pejabat negara.

Seorang pengamat politik di Jakarta menilai kegaduhan tersebut bisa berdampak luas.Jumat (19/12/2025).

“Kalau terus dipertahankan, ini bisa menjadi beban politik bagi Presiden,” ujarnya.

Jangan Tutupi Luka dengan Penghargaan

Publik kini menuntut negara lebih berpihak pada rakyat dan lingkungan, bukan sekadar pada kepentingan korporasi.

“Jangan hanya lihat angka produksi. Luka sosial juga harus diperhitungkan,”
tegas Sueken.

Jika konflik di Simalungun terus dibiarkan, ketidakpercayaan terhadap negara dikhawatirkan semakin dalam dan sulit dipulihkan.**

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Gus Syaifuddin Hadiri Majelis Semaan Al-Qur’an MANTAB, Serukan Penguatan Iman dan Ukhuwah Umat

11 July 2026 - 15:01 WIB

Warga Keluhkan Peternakan Ayam di Tengah Permukiman Jombang, Desak Pemkot Tangsel Bertindak Tegas

10 July 2026 - 02:06 WIB

Gus Syaifuddin: Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Harus Menjadi Jalan Pulang Menuju Ruh Perjuangan Nahdlatul Ulama

9 July 2026 - 13:16 WIB

Di Bawah Danantara, PNM Buka Jalan Kerja bagi Puluhan Ribu Lulusan SMA/SMK dari Keluarga Prasejahtera

8 July 2026 - 12:52 WIB

Eddy Soeparno Ingatkan Ekspor Listrik Jangan Rugikan Indonesia

8 July 2026 - 12:48 WIB

Dewan Kesenian Banyumas Buka Pendaftaran Pemilihan Ratu Kebaya dan Batik Kasual Trendy Anak 2026

3 July 2026 - 15:28 WIB

Trending di Entertainment