Jakarta, – Bisnispos.Di tengah kemeriahan produksi film nasional yang terus bertumbuh, nama Tyas Asko kembali menjadi sorotan. Sutradara berpengalaman yang dikenal dengan karya-karya humanis ini dipercaya menahkodai film terbaru produksi Black White Pictures bertajuk “Banyak Anak Banyak Rejeki (Yang Harus Dicari!)”.
Dalam wawancara khusus di Jakarta, Tyas Asko membagikan pandangannya mengenai konsep penyutradaraan, pendekatan ensemble cast, hingga filosofi visual yang diterapkannya dalam film bergenre drama komedi romantis ini.
Komedi yang Tidak Sekadar Menghibur
Tyas tidak memandang Banyak Anak Banyak Rejeki sekadar sebagai film komedi keluarga biasa. Menurutnya, film ini menjadi medium reflektif untuk menggambarkan realita sosial masyarakat Indonesia.

“Judul ini membawa makna dalam. Banyak anak bukan hanya tentang kuantitas, tapi tentang kekayaan emosional, dinamika keluarga, dan kehangatan yang bisa lahir dari hal-hal paling sederhana dalam kehidupan,” ujar Tyas.
Komedi Natural, Bukan Slapstick
Meski bergenre komedi, Tyas secara sadar menjauhi pendekatan slapstick. Ia lebih memilih membangun tawa dari situasi sehari-hari, dialog yang jujur, dan keunikan karakter.
“Saya ingin komedi yang lahir dari keakraban dan realita, bukan dari kejutan yang dibuat-buat. Fokusnya adalah rasa—bukan hanya tawa,” jelasnya.
Ensemble Cast: Merayakan Semua Peran
Dengan jajaran pemain yang sangat banyak, dari aktor senior hingga pendatang baru, Tyas mengadopsi pendekatan ensemble cast—di mana tidak hanya satu tokoh utama yang mendominasi, melainkan semua karakter memiliki kontribusi penting.
“Saya ingin setiap aktor punya momen yang berkesan, meski hanya satu atau dua adegan. Itu tantangan besar sekaligus peluang besar,” ujar Tyas.
Ia juga menegaskan bahwa aktor-aktor legendaris yang terlibat diberi ruang ekspresi sesuai karakter khas mereka. Improvisasi tetap dibuka selama berada dalam batas kendali narasi.

Karakter yang Hidup dan Penuh Warna
Tyas menaruh perhatian besar pada pembangunan karakter. Ia bekerja erat dengan para pemain untuk menemukan gestur, suara, dan dinamika khas tiap karakter—agar setiap sosok di layar terasa hidup dan membekas di benak penonton.
“Saya ingin penonton bisa merasa dekat dengan para tokoh. Melihat diri mereka sendiri dalam karakter-karakter ini,” katanya.
Pendekatan Visual: Dinamis Namun Intim
Untuk mendukung cerita yang padat dan dinamis, Tyas menerapkan gaya penyutradaraan dengan kamera yang lincah namun tetap intim. Ia banyak bermain di ranah mid-shot dan close-up guna menangkap ekspresi dan emosi.
“Saya ingin visualnya kuat meskipun ini film komedi. Dinamis, tapi tetap membawa penonton dekat secara emosional,” tuturnya.
Mengelola Ritme dan Emosi
Dengan banyaknya karakter dan konflik, menjaga ritme menjadi kunci. Tyas menyusun alur agar transisi antar adegan mengalir cepat, namun tidak mengorbankan momen emosional maupun punchline komedi.
“Film ini ramai, tapi ritmenya harus terkontrol. Komedi yang terlalu cepat bisa lepas. Emosi yang terlalu lama bisa mengendorkan tensi. Jadi saya betul-betul memperhatikan tempo,” jelasnya.
Tentang Tyas Asko
Nurtyas Nugroho Asko, lahir 30 Juli 1975, dikenal luas di industri perfilman Indonesia sejak awal 2000-an. Ia menyelesaikan pendidikan formal di Akademi Akuntansi YKPN Yogyakarta, namun lebih dikenal karena portofolio penyutradaraan dan produksi film serta iklan komersial.
Beberapa karya filmnya antara lain 4 Sehat 5 Sempurna (2002), Cinta 24 Karat (2004), Badwolves (2005), Lenong Bocah (2005), hingga Otomatis Romantis (2007). Karya terbarunya sebelum ini adalah Sumur Jiwo 1977 (2024) yang juga diproduksi oleh Black White Pictures.
Tyas juga telah menyutradarai puluhan iklan dari berbagai sektor—dari makanan, elektronik, otomotif, hingga perbankan.
“Banyak Anak Banyak Rejeki” menjadi kolaborasi terbaru Tyas Asko dan Black White Pictures. Film ini menjanjikan kombinasi sempurna antara cerita ringan, tawa yang alami, dan pesan kehidupan yang menyentuh. Sebuah film yang bukan hanya untuk ditonton, tapi juga untuk direnungkan.(masdjo)















