Jakarta, – Bisnispos.com Budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Di tengah derasnya perubahan zaman, budaya justru dapat menjadi senjata pamungkas untuk membangun identitas bangsa, memperkuat karakter generasi muda, sekaligus menjadi energi bagi pembangunan manusia.
Gagasan tersebut mengemuka dalam pemaparan Program Wakil Ketua Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan DPCPartai Rakyat Indonesia (PRI) Jakarta Selatan yang berlangsung di Rumah Rakyat,DPP PRI Jakarta, Senin (12/8/2026).
Sofie Azizah, selaku Wakil Ketua Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, DPC PRI Jakarta Selatan.menempatkan pembangunan manusia sebagai fondasi penting untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, sehat, berbudaya, dan berdaya saing.
Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya diukur dari kemajuan ekonomi dan infrastruktur. Bangsa yang kuat juga membutuhkan manusia yang memiliki pendidikan, kesehatan, karakter, serta akar budaya yang kokoh.
Program tersebut kemudian dirancang melalui tiga pilar utama.
Pertama, pendidikan untuk semua, melalui program beasiswa dan bimbingan belajar bagi anak-anak dari keluarga pra-sejahtera. Pendidikan dipandang sebagai pintu utama untuk membuka kesempatan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Kedua, budaya untuk identitas, melalui Festival Budaya Betawi dan berbagai kegiatan seni kreatif. Program ini diarahkan bukan hanya untuk melestarikan tradisi, tetapi juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus mengembangkan kebudayaan lokal.
Ketiga, kesehatan untuk generasi, melalui Posyandu Plus dan gerakan pencegahan stunting, termasuk pendampingan gizi bagi ibu hamil dan anak balita.
Ketiga pilar tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak berdiri sendiri. Pendidikan membangun kecerdasan, kesehatan menjaga kualitas kehidupan, sementara budaya membentuk karakter dan identitas.
“Membangun Manusia, Menjaga Budaya, Mewujudkan Masa Depan Indonesia yang Lebih Baik,” menjadi semangat yang diusung dalam program tersebut.
Budaya pun ditempatkan bukan sebagai ornamen pembangunan, melainkan sebagai kekuatan strategis bangsa. Ketika generasi muda memahami akar budayanya, mereka tidak hanya mengenal masa lalu, tetapi juga memiliki pijakan untuk menentukan arah masa depan.
Dari Rumah Rakyat, gagasan itu menemukan maknanya: membangun Indonesia tidak cukup hanya dengan membangun kota dan gedung, tetapi juga harus membangun manusianya dan menjaga jati dirinya.
Sebab, bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu melangkah jauh ke depan tanpa kehilangan identitas dan akar budayanya.**















