Jakarta – Bisnispos.com Di tengah derasnya arus hiburan digital, panggung teater kembali menunjukkan daya hidupnya sebagai ruang refleksi sosial. Sanggar Bambu akan mementaskan drama “Sayang Ada Orang Lain”, karya dramawan legendaris Utuy Tatang Sontani, pada Rabu (5/8/2026) pukul 15.00 WIB di Gedung PPSB Gelanggang Remaja Jakarta Utara.
Pementasan yang disutradarai Eddy Dharmawanto ini menghadirkan kolaborasi para pemain teater, penata musik, dan penata lampu yang telah berpengalaman. Dengan kekuatan akting dan artistik yang matang, pertunjukan ini diharapkan mampu menyuguhkan pengalaman teater yang emosional sekaligus menggugah kesadaran sosial penonton.

Oplus_131072
Drama “Sayang Ada Orang Lain” mengangkat kisah pilu tentang sepasang suami istri yang rumah tangganya berada di ujung perpisahan akibat himpitan ekonomi. Ketidakmampuan sang suami memperoleh pekerjaan membuat beban keluarga semakin berat. Dalam kondisi penuh keputusasaan, sang istri mengambil keputusan tragis dengan menjual dirinya demi mempertahankan kehidupan rumah tangga.
Lebih dari sekadar kisah keluarga, naskah karya Utuy Tatang Sontani ini merupakan kritik sosial yang tajam terhadap persoalan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, serta rapuhnya ketahanan keluarga. Meski ditulis puluhan tahun lalu, pesan yang dibawanya tetap relevan dengan berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat Indonesia hingga hari ini.
Melalui penyutradaraan Eddy Dharmawanto, drama ini diharapkan tidak hanya menghadirkan pertunjukan yang menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan arti cinta, pengorbanan, harga diri, dan perjuangan hidup di tengah tekanan ekonomi yang semakin kompleks.
Pementasan ini sekaligus menjadi bukti bahwa seni teater tetap memiliki peran penting sebagai medium pendidikan, kritik sosial, dan pelestarian karya sastra Indonesia. Di tengah perubahan zaman, panggung teater terus menjadi ruang dialog antara seniman dan masyarakat dalam membangun empati serta kesadaran akan persoalan-persoalan kemanusiaan.
“Pertunjukan ini diharapkan menjadi momentum untuk kembali mengapresiasi kekayaan teater Indonesia yang mampu menghadirkan kisah-kisah sederhana dengan makna yang begitu mendalammendalam”kata Eddy Dharmawanto.















