Jakarta, — Bisnispos.com Nasionalisme tidak selalu harus diteriakkan dalam pidato atau diwujudkan melalui seremoni. Dalam kehidupan berbangsa, nasionalisme juga dapat hadir melalui kepedulian, gotong royong, karya seni, pelestarian budaya, dan keberanian untuk berdiri bersama mereka yang sedang menghadapi ujian kehidupan.
Semangat itulah yang akan dibawa dalam “Guruh Sukarno Putra Mempersembahkan Untuk Indonesia”, sebuah kegiatan penggalangan dana bagi anak-anak penyintas kanker yang memadukan kemanusiaan, seni, musik, dan kekayaan budaya Nusantara.
Acara tersebut akan digelar pada Kamis, 27 Agustus 2026 di Deheng House, Kemang, Jakarta, bekerja sama dengan Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) dan Celltech Stem Cell Centre – Prof. Dr. Deby Vinski, MScAA, PhD.
Momentum ini sekaligus menjadi panggung peluncuran Paduan Suara Gema Indonesia, binaan Guruh Sukarno Putra sebuah kelompok yang tidak sekadar menyanyikan lagu, tetapi berupaya membawa identitas Indonesia melalui suara, gerak, busana dan simbol-simbol kebudayaan Nusantara.
Ketika Nasionalisme Menjadi Kepedulian
Di tengah kehidupan bangsa yang terus bergerak menghadapi berbagai tantangan, kepedulian terhadap anak-anak penyintas kanker menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.
Mereka adalah generasi yang sedang berjuang mempertahankan harapan. Di balik perjuangan mereka terdapat keluarga, tenaga kesehatan, pendamping, relawan, dan masyarakat yang ingin memastikan bahwa penyakit tidak memutus kesempatan seorang anak untuk memiliki masa depan.
Karena itu, kesehatan anak bukan semata persoalan medis.
Ia adalah persoalan kemanusiaan. Bahkan, dalam perspektif kebangsaan, kesehatan generasi muda merupakan bagian dari ketahanan nasional.
Pesan inilah yang menjadi salah satu landasan kegiatan “Untuk Indonesia”.
Ketua Acara, Ai Syarif, menegaskan bahwa kegiatan tersebut diharapkan dapat mengetuk hati masyarakat dan para dermawan agar ikut memberikan dukungan bagi anak-anak yang tengah berjuang melawan kanker.

«“Ini bagian penting untuk ketahanan nasional dalam kesehatan. Kegiatan ini kami akan mengetuk hati para dermawan untuk kepentingan rakyat Indonesia,” ujar Ai Syarif.» saat jumpa awak media di Jakarta.Senin (24/8/2026).
Kalimat tersebut menggambarkan sebuah kesadaran bahwa membangun Indonesia bukan hanya tentang pembangunan fisik dan ekonomi. Membangun Indonesia juga berarti memastikan anak-anak bangsa mendapatkan kesempatan untuk sembuh, belajar, tumbuh, dan menatap masa depan.
Guruh Sukarno Putra: Seni sebagai Jalan Pengabdian
Keterlibatan Guruh Sukarno Putra dalam kegiatan ini juga memiliki dimensi yang lebih luas.
Sebagai pembina Gema Indonesia, perannya tidak berhenti pada memberikan arahan dari belakang panggung. Guruh terlibat langsung dalam berbagai aspek penampilan, mulai dari koreografi, busana, tata rias hingga penegasan penggunaan konde bagi perempuan.
Bagi Gema Indonesia, identitas Indonesia bukan sekadar nama.
Ia harus terlihat, terdengar dan terasa.
Karena itu, para anggota Gema Indonesia terbiasa berlatih dengan menggunakan wastra Nusantara. Wastra tidak ditempatkan hanya sebagai pakaian pelengkap pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari pesan kebudayaan.
Di tengah derasnya arus budaya global, mengenakan wastra Nusantara adalah sebuah pernyataan bahwa modernitas tidak harus membuat bangsa kehilangan jati dirinya.
Justru sebaliknya, Indonesia dapat berdiri percaya diri di tengah dunia dengan membawa kekayaan budayanya sendiri.
Suara yang Menjadi Doa
Gema Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan utama dalam acara tersebut.
Suara paduan suara yang menyatu dapat dimaknai sebagai simbol persatuan: banyak suara, tetapi memiliki satu harmoni.

Begitu pula Indonesia.
Bangsa ini dibangun dari keberagaman suku, bahasa, tradisi, agama, seni dan budaya. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk menciptakan harmoni.
Dalam konteks itulah Gema Indonesia hadir.
Setiap suara yang dinyanyikan bukan hanya pertunjukan, tetapi menjadi bagian dari pesan bahwa Indonesia harus terus dirawat dengan persatuan, gotong royong dan kepedulian terhadap sesama.
Musikus Willy Aviantara, yang dipercaya sebagai penata musik, mengatakan persiapan Gema Indonesia dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Namun, seluruh tim berusaha menghadirkan penampilan yang maksimal.
“Persiapannya tidak terlalu lama, tetapi kami berusaha memberikan yang terbaik untuk Gema Indonesia binaan Guruh Sukarno Putra,” ujar Willy.
Dari Panggung Seni untuk Kemanusiaan
Panggung “Untuk Indonesia” juga akan menghadirkan sejumlah penampil, antara lain Marcell Siahaan, Gema Indonesia, Kinarya GSP, Putri GSP, I Ketut Gunawan Sandika, serta para Gadis Sampul: Starrisya Andhita, Fae Bernice Robin Jane Callista dan Kaçamelyv Prakaça.
Acara akan dipandu Soraya Haque dan Ai Syarif, dengan tata musik oleh Willy Aviantara.
Namun, perhatian utama bukan semata pada kemeriahan panggung.
Ada misi kemanusiaan yang menjadi jantung acara tersebut.
Panitia juga akan menggelar lelang wastra karya Guruh Sukarno Putra, wastra karya anak-anak penyintas kanker, serta Ndara Pearls. Hasil lelang akan didonasikan melalui Yayasan Kanker Anak Indonesia.
Dengan demikian, karya seni memperoleh makna baru.
Wastra yang selama ini menjadi simbol identitas budaya Indonesia, pada kesempatan ini juga menjadi sarana berbagi. Seni tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi bergerak menjadi tindakan nyata.
YKAI: Merawat Harapan Anak-anak Pejuang Kanker
Prof. Dr. Deby Vinski menyampaikan bahwa perjuangan anak-anak penyintas kanker membutuhkan kolaborasi berkelanjutan.
Menurutnya, YKAI terus berupaya mendampingi para pejuang cilik melalui berbagai aspek, termasuk pengobatan, pendidikan dan penyediaan rumah singgah.
“YKAI mengumpulkan adik-adik pejuang dalam menjalankan kesembuhan dan terus berkolaborasi untuk pengobatan, pendidikan dan rumah singgah,” ujarnya.
Pesan tersebut mempertegas bahwa kesembuhan tidak hanya berbicara tentang pengobatan.
Seorang anak juga membutuhkan pendidikan, kasih sayang, lingkungan yang mendukung, serta keyakinan bahwa masa depannya masih terbuka lebar.
Merawat Indonesia dari Hal yang Paling Manusiawi
“Untuk Indonesia” pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah acara.
Ia adalah refleksi bahwa kecintaan kepada bangsa dapat diwujudkan dengan cara yang sederhana namun bermakna: menolong sesama, menjaga budaya, menguatkan persatuan dan memberikan harapan kepada generasi penerus.
Indonesia memiliki warisan budaya yang luar biasa. Musik, busana, tari, tradisi dan karya seni adalah kekuatan lunak bangsa yang dapat menyatukan manusia.
Tetapi kebudayaan akan kehilangan maknanya apabila tidak menghadirkan kemanusiaan.
Karena itu, ketika suara Gema Indonesia berkumandang, ketika wastra Nusantara dikenakan, ketika karya seni dilelang untuk amal, dan ketika tangan para dermawan terulur kepada anak-anak penyintas kanker, sesungguhnya sedang terjadi satu pesan besar:
Mencintai Indonesia berarti mencintai manusianya.
Dan menjaga Indonesia berarti memastikan bahwa tidak ada anak bangsa yang merasa berjuang sendirian.
Acara ini diselenggarakan Elang Production di bawah naungan Ai Syarif, Gamal Putra dan Patria Mulyadi, serta mendapat dukungan dari Deheng House, Viva Cosmetics, Batik Chic, Ai Syarif 1965, PT Kara Santan Pertama, Vivi Nici, Al Hayyu Carpets, MW Music Studio, Quantum Group dan Ndara Pearls.
Untuk Indonesia untuk kemanusiaan, untuk budaya Nusantara, dan terutama untuk anak-anak bangsa yang sedang berjuang meraih kesembuhan.(Djo)















