Menu

Mode Gelap

News · 16 Aug 2026 17:43 WIB ·

Gus Syaifuddin Mainkan Peran Strategis, Bedah Buku Mbah Wahab Jadi Panggung Membaca Masa Depan NU


 Gus Syaifuddin Mainkan Peran Strategis, Bedah Buku Mbah Wahab Jadi Panggung Membaca Masa Depan NU Perbesar

 

Jombang, – Bisnispos.com Ada yang menarik dari gelaran Silaturahmi Nasional Dzurriyah Muassis NU dan Bedah Buku Mbah Wahab di Auditorium Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), Tambakberas, Jombang, Sabtu (15/8/2026) malam.

Di balik forum yang berlangsung khidmat itu, sosok Gus Syaifuddin sebagai Ketua Panitia tampak memainkan peran penting. Ia tidak sekadar menyiapkan sebuah acara seremonial, tetapi menjadikan momentum tersebut sebagai ruang untuk mempertemukan sejarah, keluarga para muassis, elite organisasi, dan gagasan besar tentang masa depan Nahdlatul Ulama.

Peserta memenuhi auditorium. Perhatian kemudian tertuju ketika Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya hadir dan menyampaikan pandangan mengenai sosok KH Abdul Wahab Hasbullah ulama yang tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri NU, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki kecermatan membaca perubahan geopolitik dunia.

Gus Syaifuddin mengajak seluruh komponen jam’iyah NU untuk kembali melihat akar sejarah perjuangan para muassis. Baginya, memahami NU tidak cukup hanya dengan mengingat siapa pendirinya, tetapi juga harus memahami cara berpikir, strategi, keberanian, serta visi peradaban yang melatarbelakangi kelahirannya.

Agenda bedah buku karya H. Abdul Mun’im DZ, setebal 262 halaman dan diterbitkan Unwaha Press pada 2024, menjadi pintu masuk untuk mengurai kembali perjalanan intelektual dan politik KH Abdul Wahab Hasbullah.

Buku tersebut menjadi semakin relevan ketika Gus Yahya mengangkat salah satu sisi penting dari pemikiran Mbah Wahab, yakni kemampuan membaca perubahan geopolitik Islam pascaruntuhnya Khilafah Utsmaniyah pada dekade 1920-an.

Dalam pemaparan Gus Yahya, Mbah Wahab disebut pernah mendapat undangan menghadiri Muktamar Khilafah di Arab Saudi. Namun, keberangkatannya kemudian batal dengan alasan “tertinggal kapal”.

Di balik kisah tersebut, tersimpan pembacaan politik yang jauh lebih dalam.

Gus Yahya menafsirkan alasan tersebut sebagai bentuk diplomasi yang halus. Mbah Wahab, menurut penjelasan yang disampaikan dalam forum, tidak menghendaki Arab Saudi menjadi pusat atau basis khilafah baru sebagai pengganti kekuasaan Turki Utsmani.

Sikap itu menunjukkan bahwa Mbah Wahab tidak melihat perubahan politik dunia secara hitam-putih. Ia membaca arah zaman, melihat konsekuensi geopolitik, sekaligus mempertimbangkan kesinambungan tradisi keilmuan Islam.

Dari sinilah gagasan tentang NU menjadi semakin menarik.

NU tidak lahir dari ruang kosong.

Organisasi ini lahir dari kegelisahan para ulama terhadap perubahan zaman, penjajahan, dinamika politik internasional, serta kebutuhan menjaga tradisi keislaman Nusantara. Para kiai tidak memilih menjadi penonton sejarah. Mereka membangun sebuah jam’iyah yang mampu berdiri di tengah perubahan tanpa kehilangan akar keilmuannya.

Dan di sinilah langkah Gus Syaifuddin sebagai ketua panitia menemukan relevansinya.

Dengan menghadirkan dzurriyah para muassis, Ketua Umum PBNU, akademisi, serta gagasan yang digali melalui buku tentang Mbah Wahab, forum tersebut seakan dirancang sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan NU.

Bukan sekadar mengenang Mbah Wahab, tetapi menghidupkan kembali cara berpikirnya.

Sebab, warisan terbesar seorang muassis bukan hanya nama yang tercatat dalam sejarah, melainkan kemampuan generasi berikutnya meneruskan keberanian berpikir dan membaca zaman.

Kelahiran NU sendiri merupakan peristiwa penting dalam sejarah peradaban Islam dan Indonesia. Ia tumbuh dari tangan para ulama di tengah tekanan kolonial, bukan sebagai produk kekuasaan militer ataupun pemerintahan.

Karena itu, NU sejak awal memiliki karakter yang unik: berakar pada pesantren, berpijak pada tradisi keilmuan, namun memiliki kemampuan merespons persoalan politik dan perubahan dunia.

Forum di Unwaha malam itu akhirnya bukan hanya tentang sebuah buku.

Ia menjadi panggung untuk mengingatkan kembali bahwa Mbah Wahab bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia adalah contoh bagaimana seorang ulama membaca zaman, mengambil posisi, dan menyiapkan fondasi organisasi untuk menghadapi masa depan.

Sementara Gus Syaifuddin, melalui forum tersebut, memperlihatkan satu hal penting: sejarah bisa menjadi alat konsolidasi gagasan ketika dikemas bukan sebagai romantisme, melainkan sebagai energi untuk menjawab persoalan hari ini.

Di Tambakberas, warisan Mbah Wahab kembali dibicarakan.

Dan dari sana, pertanyaan yang lebih besar muncul: mampukah generasi NU hari ini memainkan peran strategis sebagaimana para muassis dahulu membaca perubahan dunia?**

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Dari Teror Rentenir Ibu Rini Bangkit Bersama PNM dan Menata Masa Depan Keluarga

13 August 2026 - 16:16 WIB

Saat Budaya Menjadi Senjata Pamungkas Membangun Identitas Bangsa

12 August 2026 - 16:25 WIB

Menko PM Lihat Langsung Dampak Pemberdayaan PNM di Gresik

9 August 2026 - 04:24 WIB

DPC Jakarta Selatan PRI Meriahkan HUT Ke-1 Partai Rakyat Indonesia, Teguhkan Semangat Mengabdi untuk Negeri

8 August 2026 - 04:05 WIB

BBPPMPV Seni dan Budaya Gembleng Instruktur Tari dari Berbagai Daerah, Sendratari “Satra” Siap Tampil Sebagai Puncak Kolaborasi Nasional

8 August 2026 - 00:08 WIB

Majelis Zikir dan Sholawat IKB Perkuat Ukhuwah Warga Betawi, H. Jayadih Ajak Jadikan Pengajian sebagai Penguat Persatuan

7 August 2026 - 16:39 WIB

Trending di Budaya