Oleh: M.Guntur Alting
– DewanPembina DPC-PRI Jakarta-Selatan
MARI kita mulai dengan sedikit waras. Angka di atas kertas tidak pernah serta-merta menjelma menjadi kebenaran mutlak, apalagi ketika urusannya adalah menimbang ‘kualitas manusia.’
Membaca “Opinion Leaders Survey” dari SMRC (September 2026) menyodorkan daftar nama yang merajai bursa kualitas kepemimpinan nasional.
Di pucuk pimpinan ada Mahfud MD dengan angka 7,6. Menyusul di belakangnya—berkerumun di angka 7,0—ada satu pleton nama yang sudah akrab di telinga publik.
Basuki Tjahaja Purnama, Anies Baswedan, Dedi Mulyadi, Zainal Arifin Mochtar, dan Pramono Anung Wibowo.
Tentu saja, angka-angka ini disaring dari kacamata para pemuka opini (opinion leaders).
Mereka bukan hasil pungut suara di pasar malam atau iseng-iseng berhadiah di media sosial.
Ini adalah kurasi kaum terdidik.
Namun di sinilah letak ironi sekaligus daya tariknya: “apa benar kualitas kepemimpinan bisa direduksi sekadar menjadi deretan nilai rapor ‘ala murid’ sekolah menengah?”
Menjauhkan “Kepala” dari “Kotak Suara”
Catatan paling penting dari survei semacam ini—dan sering kali gagal dipahami oleh politisi kita yang gemar gundah gulana—adalah garis batas yang tegas antara kualitas dan elektabilitas.
Dalam demokrasi prosedural yang kita rawat setengah hati ini, orang sering tertukar antara yang “cerdas dan berintegritas” dengan yang “laku dijual di baliho”.
Mahfud MD mungkin melenggang di urutan paling atas berkat reputasinya yang gemar ‘menubruk’ ketidakadilan hukum.
Nama-nama lain di bawahnya pun mengisi spektrum yang kurang lebih serupa: punya rekam jejak, punya panggung eksekusi, dan yang paling penting, punya nyali untuk tidak sekadar menyenangkan semua pihak.
Tetapi, apakah mereka otomatis jadi pemenang di bilik suara?
Belum tentu.
Demokrasi kita kerap kali lebih mencintai kepopuleran instan ketimbang kerumitan berpikir.
Di sinilah survei SMRC bekerja sebagai cermin retak: ia menunjukkan siapa yang seharusnya memimpin secara substansi, bukan siapa yang sedang kerap dipuja secara artifisial.
Berkah Terselubung dari Daerah
Satu hal yang patut dicatat dengan kepala dingin adalah kenyataan bahwa empat dari enam tokoh teratas itu lahir dan diuji dari panggung kepemimpinan daerah.
Ahok, Anies, Dedi Mulyadi, hingga Pramono Anung adalah produk nyata dari dapur Pilkada langsung.
Betapapun pilkada sering dicaci maki karena ongkosnya yang mahal dan hiruk-pikuknya yang melelahkan, ia terbukti menjadi kawah candradimuka yang efektif.
Di daerah, seorang pemimpin tidak bisa bersembunyi di balik retorika kosong ruang seminar.
Mereka harus berurusan langsung dengan got yang mampet, pasar yang semrawut, birokrasi yang malas, dan rakyat yang menuntut kepastian hidup hari itu juga.
Ketika mereka ditarik ke panggung nasional, para opinion leaders rupanya tidak rabun melihat rekam jejak keringat tersebut.
Pulang ke Pertanyaan Dasar
Pada akhirnya, angka-angka dari SMRC ini mengembalikan kita pada pertanyaan purba yang kerap diabaikan di ruang-ruang rapat partai politik:
Sebenarnya, pemimpin seperti apa yang kita cari?
Apakah kita mendamba figur yang bersih tanpa cacat (integritas)?
Ataukah otak cemerlang yang paham cara kerja mesin negara (kompetensi)?
Atau sekadar seseorang yang berani menendang meja ketika sistem sudah terlalu busuk (keberanian)?
Jawabannya tentu tidak terletak pada selembar hasil survei. Survei hanya menunjuk jari ke arah rembulan.
Tugas kitatelah lama tertunda untuk melihat ke arah yang ditunjuk, alih-alih sekadar meributkan bentuk jari yang menudingnya.
Bagaimana menurut Anda?
Apakah para pemuka opini ini sedang menatap masa depan yang benar, atau kita sedang asyik merenungkan teori di atas panggung saat panggungnya sendiri sudah mulai reyot? (***)















