Menu

Mode Gelap

Budaya · 27 Jul 2026 05:38 WIB ·

Betawi Academia dan Kembang Sastra Betawi: Merawat Jejak Intelektual untuk Menyongsong 500 Tahun Jakarta


 Betawi Academia dan Kembang Sastra Betawi: Merawat Jejak Intelektual untuk Menyongsong 500 Tahun Jakarta Perbesar

 

Jakarta – Bisnispos.com Menjelang peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027, muncul harapan besar agar warisan intelektual masyarakat Betawi mendapat perhatian yang sama besarnya dengan pelestarian seni dan tradisi. Salah satu upaya yang kini kembali mengemuka adalah rencana penerbitan edisi kedua buku Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya Sketsa, Puisi & Prosa 1900–2000, sebuah antologi sastra yang merekam perjalanan sejarah, bahasa, dan identitas masyarakat Betawi selama hampir satu abad.

Buku yang pertama kali diterbitkan pada Oktober 2011 oleh Penerbit Padasan dengan dukungan Betawi Center Foundation (BCF) itu mendapat sambutan luas dari kalangan wartawan, budayawan, sastrawan, akademisi, sejarawan, hingga pemerhati bahasa Indonesia. Antologi tersebut tidak hanya menyajikan karya sastra, tetapi juga menjadi dokumentasi penting mengenai perkembangan ejaan, ragam bahasa, dinamika sosial Batavia-Jakarta, serta jejak para sastrawan berdarah Betawi.

Pakar bahasa dan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Dr. Ibnu Wahyudi, menilai buku tersebut memiliki nilai historis yang sangat tinggi.

> “Antologi ini mempunyai nilai lebih pada sisi historisitasnya sebab sebagian dimensi kebetawian yang pernah ada sepanjang kira-kira satu abad terpampang di sini. Ini suatu komitmen dan langkah intelektual yang nyata,” ujarnya.

 

Antologi Kembang Goyang memuat karya-karya tokoh sastra Betawi seperti M. Balfas, Firman Muntaco, SM. Ardan, N. Susy Aminah Aziz, Aba Mardani, dan sejumlah penulis lainnya. Seluruh proses riset dilakukan oleh Chairil Gibran Ramadhan (CGR), peneliti sejarah sosial asal Pondok Pinang, yang memperkenalkan istilah “Sastrawan Betawi Zaman Rada Kemaren” untuk menyebut generasi penulis Betawi yang mewarnai dunia sastra Indonesia.

Gagasan tersebut kemudian diperkenalkan kepada publik melalui rangkaian diskusi Ngobrol Saptu yang digelar pada 2016 di Perpustakaan Taman Fatahillah, Sanggar Betawi Firman Muntaco di Condet, dan Rumah Seni Asnur di Depok. Seluruh kegiatan terlaksana secara swadaya berkat dukungan para pecinta sejarah dan budaya Betawi.

Kini, menjelang usia lima abad Jakarta, Penerbit Padasan berencana menghadirkan edisi kedua Kembang Goyang dengan desain baru berformat hardcover yang lebih ringkas. Penerbitan tersebut diharapkan memperoleh dukungan dari Betawi Academia, forum silaturahmi para guru besar, profesor, dan cendekiawan berdarah Betawi yang dideklarasikan pada 20 Mei 2025.

Betawi Academia lahir dari inisiatif Betawi’s Professor Club sebagai wadah untuk mendorong kemajuan masyarakat Betawi melalui pendidikan, penelitian, dan pengembangan kebudayaan. Pada Juli 2025, forum ini menerbitkan buku Betawi Academia yang mendokumentasikan perjalanan hidup 33 guru besar Betawi sebagai penerus semangat perjuangan Mohammad Husni Thamrin.

Forum tersebut juga aktif membangun sinergi dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga, termasuk Institut STIAMI serta Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, guna merumuskan arah pembangunan masyarakat Betawi yang adaptif terhadap tantangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.

Sejumlah tokoh yang tergabung dalam Betawi Academia antara lain Prof. Dr. Dailami Firdaus, Prof. Dr. Sylviana Murni, Prof. Dr. Bahrullah Akbar, Prof. Dr. Edi Sukardi, Prof. Dr. Agus Suradika, Prof. Dr. dr. Hasbullah Thabrany, Prof. Dr. Siti Nurbaya Bakar, Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, Dr. Fauzi Bowo, Dr. Tadjuddin Noer, serta berbagai akademisi dan cendekiawan Betawi lainnya.

Rencana penerbitan kembali Kembang Goyang menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya diwujudkan melalui pertunjukan seni, tetapi juga melalui karya tulis yang mampu melintasi ruang dan waktu. Buku menjadi warisan intelektual yang dapat dibaca lintas generasi, sekaligus menjadi sumber pengetahuan bagi peneliti, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Harapan pun kini tertuju kepada Betawi Academia. Dukungan terhadap penerbitan karya-karya intelektual akan menjadi bukti bahwa komunitas akademisi Betawi tidak hanya hadir sebagai simbol keilmuan, tetapi juga sebagai penggerak lahirnya literatur yang memperkuat identitas dan peradaban Betawi.

Sebagaimana pepatah Latin kuno, Scripta manent, verba volant”yang tertulis akan tetap tinggal, sedangkan yang diucapkan akan berlalu.” Di tengah derasnya arus perubahan zaman, buku adalah jejak yang akan terus berbicara ketika generasi hari ini telah menjadi bagian dari sejarah. Dukungan terhadap lahirnya karya-karya seperti Kembang Goyang bukan sekadar investasi bagi dunia literasi, melainkan juga investasi bagi masa depan kebudayaan Betawi dan Jakarta.

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

28 July 2026 - 13:49 WIB

Iwenk MJC Kobarkan Semangat Bela Negara Lewat Lagu “Satu Cinta Indonesia” di Hari Anak Nasional 2026

28 July 2026 - 07:55 WIB

Santuni 20 Anak Yatim dan Sedekah Al-Quran, Program Jumat Berkah Wartawan Kunjungi Yayasan Rumah Ceria di Kota Serang Banten

25 July 2026 - 07:37 WIB

HUT KNPI Ke-53: Saad Budiman Lubis Ajak Pemuda Menjadi Cahaya Perubahan Menuju Indonesia Emas

24 July 2026 - 15:46 WIB

Akademisi: Papua Butuh Kebijakan Berbasis Data, Bukan Narasi yang Memperlebar Jurang Perbedaan

23 July 2026 - 04:37 WIB

DPD IKB Jakarta Timur Terima Kunjungan Silaturahmi DPP IKB Jabodetabek Perkuat Soliditas Organisasi

22 July 2026 - 17:42 WIB

Trending di News