Sekolah Ridho Allah Dorong Jamaah Memahami Sholat sebagai Latihan Kesadaran
Jakarta — Bisnispos.com Sholat tidak semestinya dipahami hanya sebagai rangkaian gerakan dan bacaan untuk menggugurkan kewajiban. Sholat juga dapat menjadi ruang untuk melatih kesadaran, menenangkan pikiran, mengendalikan diri, sekaligus menghadirkan hati di hadapan Allah SWT.
Pesan tersebut mengemuka dalam kajian Sekolah Ridho Allah (Sekolah RA – Ilmu Kehidupan) yang disampaikan Ustadz Narwoto di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2026). Kajian mengangkat pembahasan tentang khusyuk, tumakninah, dan ketenangan dalam menjalankan ibadah sholat.
Dalam pemaparannya, Ustadz Narwoto menekankan pentingnya memahami bahwa sholat melibatkan jasmani dan rohani. Gerakan tubuh harus dilakukan dengan benar dan tenang, sementara hati serta pikiran diarahkan untuk sadar terhadap apa yang sedang dilakukan.
Salah satu konsep yang menjadi perhatian adalah tumakninah, yakni tidak melakukan gerakan sholat secara tergesa-gesa. Setiap perpindahan gerakan memiliki ruang untuk berhenti sejenak dan menghadirkan kesadaran.
“Berhenti sejenak itu penting. Pikiran juga perlu berhenti sejenak agar kita sadar sedang menghadap Allah,” menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kajian tersebut.
Mengapa Harus Tumakninah?
Pertanyaan sederhana kemudian muncul: mengapa dalam sholat seseorang harus tenang dan tidak terburu-buru?

Ustadz Narwoto mengajak peserta melihat sholat dari sisi kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menghadap orang yang dihormati, seperti atasan, wali kota, atau gubernur, secara alamiah muncul sikap sopan, perhatian, dan kesadaran terhadap siapa yang sedang dihadapi.
Lantas, bagaimana ketika seorang manusia menghadap Allah SWT?
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting bagi peserta kajian. Kesadaran dalam sholat bukan hanya persoalan posisi tubuh, tetapi juga bagaimana seseorang menghadirkan rasa hormat dan perhatian ketika beribadah.
Ketika Tubuh Sholat, tetapi Pikiran Berjalan-Jalan
Kajian semakin menarik ketika membahas persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: pikiran yang tidak berada di dalam sholat.
Seseorang bisa saja berdiri menghadap kiblat, membaca Al-Fatihah, dan melakukan seluruh gerakan sholat. Namun, pikirannya justru melayang ke pekerjaan, keluarga, persoalan pribadi, bahkan membayangkan sedang berjalan-jalan ke mal.
Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kekhusyukan bukan perkara mudah.
Karena itu, ketika pikiran mulai berkelana, seseorang perlu menyadari kembali: “Saya sedang sholat. Saya sedang menghadap Allah. Saya sedang membaca dan memohon kepada-Nya.”
Kesadaran untuk kembali inilah yang menjadi bagian penting dalam latihan kekhusyukan.
Memahami Bacaan, Menghidupkan Kesadaran
Menurut materi Sekolah RA, sholat juga perlu disertai pemahaman terhadap ucapan yang dibaca. Bacaan tidak hanya dilafalkan oleh lisan, tetapi sebisa mungkin dipahami oleh pikiran dan dihayati oleh hati.
Dengan memahami makna bacaan, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk menyadari kepada siapa ia sedang berkomunikasi dalam ibadah.
Sholat kemudian tidak berhenti sebagai rutinitas lima waktu, melainkan menjadi momentum untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan.
Di tengah kesibukan, tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, dan berbagai gangguan pikiran, sholat menjadi ruang untuk kembali menata diri.
Dari Tumakninah Menuju “Senang Sholat”
Konsep yang ditawarkan Sekolah Ridho Allah pada akhirnya mengarah pada satu tujuan: “Senang Sholat.”
Senang sholat bukan sekadar karena telah menyelesaikan kewajiban, tetapi karena seseorang menemukan ketenangan ketika benar-benar hadir dalam ibadah.
Sholat yang dilakukan dengan kesadaran dapat menjadi latihan untuk menenangkan pikiran, melembutkan hati, mengendalikan nafsu, serta membangun sikap lebih tertib dan sabar dalam kehidupan.
Pesan kajian itu pun sederhana, tetapi mendalam:
> “Sholat dimulai dengan gerakan, disempurnakan dengan tumakninah, dihidupkan dengan pemahaman, dan diharapkan berbuah ketenangan dalam kehidupan.”
Melalui kajian tersebut, Sekolah Ridho Allah mengajak masyarakat tidak hanya “mengerjakan sholat”, tetapi juga belajar menghadirkan diri di dalam sholat. **














