Jakarta, – Bisnispos.com Masa depan perfilman Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada genre yang sedang laris di pasaran. Di tengah dominasi film horor dan drama di layar lebar, industri perfilman nasional ditantang untuk berani mengeksplorasi genre lain, memperkuat kualitas cerita, serta membangun model bisnis yang mampu menjawab perubahan perilaku penonton.
Persoalan tersebut menjadi bahasan utama dalam forum Indonesian Film Outlook 2027 yang diselenggarakan Perkumpulan Tenaga Ahli Televisi dan Film Indonesia (PATFI) bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan berlangsung di Dikota Backyard Social Space, Cipete, Jakarta Selatan, Sabtu (7/11/2026).
Mengangkat tema Melampaui Dominasi Horor dan Drama: “Potensi Eksplorasi Genre Non-Dominan (Psychological Thriller, Sci-Fi, & Action) dalam Tren Perfilman Indonesia”, forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan untuk membaca arah perkembangan industri film nasional menjelang 2027.
Diskusi menghadirkan Ketua Umum PATFI Adisurya Abdy serta tiga sutradara film, yakni Ivan Bandhito, Ozan Ruz, dan Lutfi Anas dan Herti Purba Produser Film Black Coffee.Dialog dipandu moderator Albaransyah Yusuf.turut dihadiri Ketum Persatuan Karyawan Film dan Televisi (KFT) Indonesia, Indrayanto Kurniawan.
Ketua Umum PATFI, Adisurya Abdy, menyampaikan apresiasi kepada seluruh insan perfilman yang hadir. Menurutnya, pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan memperkaya perspektif mengenai tantangan perfilman Indonesia.
“Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh teman-teman dalam dialog dan diskusi perfilman hari ini. Pertemuan ini menjadi ruang silaturahmi, berbagi pengalaman, sekaligus memperkaya wawasan kita dalam melihat perkembangan industri perfilman Indonesia,” ujar Adisurya.
Ia menilai tema masa depan film Indonesia 2027 merupakan pembahasan penting, terlebih industri perfilman tengah menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Menurut Adisurya, perubahan teknologi turut memengaruhi cara masyarakat menikmati tontonan, pola produksi, hingga strategi distribusi film. Karena itu, insan perfilman perlu memahami perubahan tersebut agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.
Lebih dari sekadar pertemuan para pelaku industri, Indonesian Film Outlook 2027 diharapkan menjadi momentum untuk mendorong keberanian kreator Indonesia menghadirkan cerita-cerita baru, pendekatan sinematik yang segar, serta karya yang memiliki daya saing lebih luas.
Tantangannya bukan sekadar memproduksi film dengan genre berbeda. Kekuatan cerita, kualitas produksi, keberanian bereksperimen, serta karakter sinema Indonesia yang memiliki identitas tersendiri menjadi faktor penting dalam membangun masa depan perfilman nasional.
Ivan Bandhito: Perfilman Bukan Hanya Soal Genre, tetapi Bisnis dan Industri
Salah satu perspektif menarik disampaikan sutradara Ivan Bandhito. Ia menyoroti perubahan pola distribusi dan konsumsi film yang semakin mengarah pada sistem by request atau berdasarkan permintaan pasar.
Menurut Ivan, perkembangan industri film tidak lagi bisa dilihat hanya dari genre yang sedang diminati penonton. Ada persoalan lebih besar yang harus diperhatikan, yakni bagaimana membangun bisnis dan ekosistem industri perfilman yang berkelanjutan.
“Sekarang kita sudah memasuki kondisi ketika film dibuat dan dikonsumsi berdasarkan permintaan pasar atau by request. Jadi, persoalannya bukan lagi hanya soal genre film apa yang diminati, tetapi bagaimana industri ini membangun model bisnis, membaca kebutuhan penonton, serta menciptakan sistem produksi dan distribusi yang berkelanjutan. Kita harus melihat perfilman sebagai sebuah industri yang terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman,” kata Ivan.
Pandangan tersebut mempertegas bahwa masa depan perfilman Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Kreativitas sineas harus berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap pasar, perkembangan teknologi, strategi distribusi, dan keberlanjutan bisnis.
Membuka Jalan bagi Genre dan Cerita Baru
Melalui forum ini, PATFI berupaya mempertemukan para praktisi, sutradara, tenaga ahli, dan pemerhati film untuk membangun dialog produktif mengenai arah perfilman nasional.
Eksplorasi genre psychological thriller, science fiction (Sci-Fi), dan action menjadi salah satu peluang untuk memperluas pilihan tontonan sekaligus memperkaya warna sinema Indonesia.
Indonesian Film Outlook 2027 pada akhirnya menjadi ajakan bagi seluruh ekosistem perfilman untuk melihat lebih jauh: bukan hanya film apa yang laku hari ini, melainkan film seperti apa yang akan membentuk masa depan sinema Indonesia.
Sebab, masa depan perfilman Indonesia tidak hanya ditentukan oleh genre yang sedang populer, tetapi juga oleh keberanian sineas menciptakan perspektif baru, menggali cerita yang belum tersentuh, dan membawa karya-karya Indonesia menuju panggung perfilman dunia.***















